Pages

Rabu, 10 November 2010

KAPITALISME “Antara Harapan dan Realita”


Oleh: Adie Dwiyanto Nurlukman

Kapitalisme sebagai sebuah prinsip ekonomi kini telah mengglobal, hampir di setiap negara di dunia ini menerapkan prinsip kapitalisme sebagai konsep dasar dalam perekonomiannya. Kapitalisme umumnya didefinisikan sebagai sistem perekonomian di mana sebagian besar barang milik (tanah dan modal) menjadi milik pribadi. Jadi dalam sistem kapitalisme terdapat sebuah kepemilikan pibadi terhadap sumber-sumber produksi, dan titik tumpu sistem ini adalah pasar swasta lepas dar intervensi pemerintah. Dengan tidak adanya intervensi dari pemerintah menyebabkan sebuah persaingan pasar yang hanya dikendalikan oleh mereka yang memiliki sumber-sumber produksi besar, sehingga berakibat pada adanya monopoli terhadap pasar. Sistem monopoli ini yang akan mengakibatkan sistem pasar yang tidak terkendali, dan menyebabkan sistem ini sebagai sebuah alat pembunuh yang mematikan. Sehingga pada akibatnya “siapa yang kuat akan tetap hidup, dan mereka yang lemah akan mati”.

Secara konsep dasar, sistem kapitalisme mengacu pada perolehan laba dengan menggunakan prinsip efisiensi dan efektivitas. Jadi kapitalisme pada penerapannya adalah dengan menekan serendah-rendahnya biaya produksi, mereka akan mendapatkan profit atau laba sebesar-besarnya. Pada akhirnya sistem ekonomi ini akan membawa dampak bagi keadaan di sekitarnya, baik itu keadaan sosial masyarakat atau pada keadaan lingkungan alam. Dampak yang ditimbulkan bagi keadaan masyarakat adalah dengan penerapan sistem ini para pemilik modal (pengusaha) akan menekan seminimal mungkin biaya untuk produksi yang salah satunya adalah merendahkan gaji pekerja (buruh). Hal ini tidak memenuhi prinsip keadilan, karena pada dasarnya buruh merupakan faktor penting bagi produksi. Contoh kasus adalah seperti yang dianalogikan Karl Marx, dalam sebuah rumah produksi seorang buruh diberi upah atau gaji sebesar $50 per hari, maka dalam per hari mereka akan menghasilkan barang-barang yang senilai dengan upahnya dalam waktu empat jam yang pertama, dengan bekerja empat jam lagi setiap harinya sang buruh bis menghasilkan produk yang nilainya dau kali lipat (dengan kata lain, tambahan $50 yang lain). Ini bererti akan ada $100 yang dihasilkan. Dan kelebihan inilah yang oleh pengusaha dibut sebagai profit atau laba. Dalam kasus itu Marx menyebutnya sebagai “tingkat eksploitasi” dimana para pemilik modal atau pengusaha akan berusaha meningkatkan tingkat kelebihan itu dengan menambah kemeampuan produksi para buruh tanpa meningkatkan biaya produksi untuk meningkatkan upah buruh. Dari segi lingkungan alam, kapitalisme cendrung bersifat anarkis terhadap lingkungan, dengan menekan biaya produksi para perusahaan lebih memilih memanfaatkan modal untuk memperbanyak jumlah produsi tanpa memikirkan pencemaran atas lingkungan yang diakibatkan oleh limbah produksi. Kerusakan ini akan menimbulkan kekacauan ekosistem. Sebagai realita yang terjadi adalah para pengusaha kayu dengan seenaknya merusak ekosistem dengan mengambil kayu sembarang dan tidak ada penenaman kembali, hal ini menyebabkan keadaan alam yang tidak stabil, seperti pemanasan global, banjir, longsor, dan kebakaran hutan.

Di balik buruknya sistem kapitalisme ini, mau tidak mau pasti kita terjebak dalam sistem ini karena sudah begitu mengglobalnya. Sulit rasanya untuk melepaskan diri dari sistem ini, karena mereka yang mampu bertahan dan maju dengan sistem ini pasti akan memepertahankannya dengan cara apapun, tetapi mereka hanyalah minoritas dari masyarakat dalam sistem ini, mereka yang mayoritas merupakan kelompok-kelompok yang tertindas, terasing, dan terbunuh oleh sistem perekonomian ini. Jalan keluar dari permasalahan ini adalah mampu masuknya intervensi dari pemerintah untuk ikut mengatur semua alur sistem perekonomian. Pemerintah seharusnya mampu memberi batasan-batasan tegas dalam sistem ini. Tetapi pesimistis masyarakat saat ini terhadap penerintah sudah begitu dalam. Pemerintah yang diharapakan sebagai gerbang keadilan bagi kelompok-kelompok mayoritas, sudah terkunci oleh “gembok-gembok” kapitalis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar